Pertamina Bangun Ekosistem SAF Berstandar Global, Siap Siap Merambah Pasar Internasional

0
8
kilang balongan

PT Pertamina (Persero) mempertegas langkahnya dalam membangun ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang terverifikasi secara global dan siap merambah pasar internasional, termasuk Eropa dan Asia-Pasifik. Strategi ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mengakselerasi dekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus memposisikan Indonesia sebagai pemain strategis dalam transisi energi global.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, dalam forum internasional “Behind the Blend: The Producers Making Net-Zero Aviation Possible” pada ISCC Global Sustainability Conference 2026 di Brussel, Belgia. Dalam diskusi tersebut, Pertamina berbagi panggung dengan produsen SAF global seperti Neste, EcoCeres, dan Montana Renewables.

“Forum ini mempertemukan produsen SAF global dan pelaku industri penerbangan dunia. Kehadiran Pertamina menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga bagian dari solusi global dalam dekarbonisasi sektor penerbangan. Kami siap memasuki pasar global melalui SAF,” ujar Agung.

Siap Tembus Pasar Global

Pertamina menargetkan pasar penerbangan regional dan global, khususnya Eropa dan Asia-Pasifik. SAF yang diproduksi dipastikan memenuhi standar spesifikasi teknis, keberlanjutan, serta persyaratan sertifikasi internasional.

Seluruh rantai nilai SAF Pertamina telah tersertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC), mulai dari pengumpulan bahan baku, proses pemurnian di kilang, hingga penyimpanan dan distribusi. Sertifikasi ini menjamin ketelusuran penuh, mencegah penghitungan ganda, serta memenuhi standar akuntansi karbon global.

“Fokus kami bukan hanya pada produksi SAF, tetapi juga membangun ekosistem yang kredibel, terukur, dan diakui global—menghubungkan pengumpulan bahan baku di tingkat komunitas dengan pasar penerbangan internasional,” tegas Agung.

Optimalkan Kilang dan Strategi Dual Growth

Pengembangan SAF merupakan bagian dari strategi dual growth Pertamina, yakni mengoptimalkan aset kilang eksisting sekaligus membangun bisnis rendah karbon. SAF diproduksi melalui teknologi co-processing berbasis minyak jelantah (used cooking oil/UCO) di Green Refinery Cilacap dengan kandungan campuran sekitar 2,4 persen.

Pengembangan bioavtur ini telah dimulai sejak 2015, termasuk riset katalis domestik dan uji teknis pada pesawat Airbus A320-200 milik Pelita Air Services. Pertamina menyatakan seluruh ekosistem telah diuji secara end-to-end, dari pengumpulan UCO hingga distribusi ke maskapai.

Saat ini, Pertamina tengah melakukan ekspansi komersial melalui proyek Biorefinery Cilacap Fase 2 yang ditargetkan on stream pada 2029. Peningkatan kapasitas ini akan mendukung kebijakan mandatori campuran SAF 1 persen untuk penerbangan internasional dari Indonesia mulai 2027, sekaligus membuka peluang ekspor.

Potensi Bahan Baku Berkelanjutan

Menurut Pertamina, tantangan utama pengembangan SAF global bukan lagi pada teknologi, melainkan ketersediaan bahan baku berkelanjutan. Indonesia dinilai memiliki potensi besar dari limbah seperti UCO dan residu POME (Palm Oil Mill Effluent), yang dapat menjadi sumber pasokan SAF global tanpa bersaing dengan kebutuhan pangan.

Agung juga menekankan pentingnya kepastian regulasi, harmonisasi standar karbon lintas negara, serta penguatan skema sertifikasi agar SAF Indonesia dapat diterima luas di pasar global.

“Pasar wajib memberikan kepastian permintaan struktural, sementara voluntary market mempercepat adopsi. Kuncinya ada pada regulasi yang jelas, sistem sertifikasi kuat, dan harmonisasi standar internasional,” ujarnya.

Melalui pengembangan SAF, Pertamina menegaskan perannya dalam menurunkan emisi sektor penerbangan, memperkuat ketahanan energi nasional, serta menciptakan nilai ekonomi domestik di tengah percepatan transisi energi global menuju Net Zero Emission 2060.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here