Warga Diminta Tak Panic Buying BBM, Akademisi Sebut Stok Aman dan Sumber Impor Beragam

0
7

Akademisi Universitas Jember (Unej) Hermanto Rohman mengimbau masyarakat untuk menghentikan aksi panic buying atau pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara berlebihan di tengah kekhawatiran dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap pasokan energi.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Antrean terjadi setelah beredarnya isu mengenai potensi kelangkaan BBM akibat konflik internasional.

“Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz memang sering memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kelangkaan BBM. Namun kami mengimbau publik untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong,” kata Hermanto di Jember, Minggu.

Menurutnya, pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyebut cadangan BBM nasional cukup untuk sekitar 21 hari tidak berarti stok BBM akan habis setelah periode tersebut.

Ia menjelaskan bahwa ketahanan stok BBM selama 21 hari merupakan indikator teknis apabila tangki penyimpanan berada dalam kondisi penuh tanpa ada pengisian ulang.

“Stok 21 hari itu sering disalahartikan sebagai hitung mundur menuju habisnya stok BBM. Padahal distribusi dan produksi di kilang domestik berjalan secara kontinu setiap hari, sehingga tangki penyimpanan terus terisi kembali,” ujarnya.

Hermanto juga mengingatkan bahwa Peraturan BPH Migas Nomor 9 Tahun 2020 mewajibkan pemegang izin usaha menyediakan cadangan operasional BBM minimal selama 23 hari.

Diversifikasi Sumber Energi

Terkait potensi penutupan Selat Hormuz akibat konflik di kawasan Timur Tengah, Hermanto menilai dampaknya terhadap pasokan BBM di Indonesia tidak akan terlalu ekstrem seperti yang dikhawatirkan masyarakat.

Meski Selat Hormuz menjadi jalur distribusi bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, Indonesia memiliki sumber impor minyak mentah yang cukup beragam.

Saat ini sekitar 20 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Arab Saudi, sementara sisanya berasal dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Rusia, negara-negara Amerika Latin, China, Nigeria, dan Angola.

“Pertamina tidak hanya bergantung pada negara-negara Arab. Keragaman sumber impor itu menjadi bantalan agar pasokan dalam negeri tetap aman meskipun ada gangguan di salah satu jalur distribusi internasional,” katanya.

Dampak Lebih Besar pada Harga

Hermanto mengakui ketegangan di Timur Tengah berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global, terutama melalui kenaikan harga minyak dunia.

Berdasarkan pengalaman konflik sebelumnya seperti di Irak dan Yaman, gangguan di Selat Hormuz dapat mendorong kenaikan harga minyak global sekitar 10 hingga 20 persen.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa kenaikan harga merupakan persoalan berbeda dengan ketersediaan pasokan BBM di dalam negeri.

“Masalahnya mungkin ada pada penyesuaian harga, tetapi bukan berarti stok BBM hilang dari SPBU,” ujarnya.

Karena itu, Hermanto menilai panic buying justru dapat menciptakan kekacauan distribusi yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Ia menambahkan pemerintah dan Pertamina telah memiliki sistem manajemen krisis untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.

“Saya mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan panic buying. Percayakan kepada pemerintah untuk mencari solusi terbaik,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here