PT Pertamina (Persero) mencatat kinerja keuangan yang solid sepanjang periode Januari–Juli 2025. Perseroan berhasil meraih pendapatan sebesar US$ 40,9 miliar atau setara Rp672 triliun. Dari sisi EBITDA, capaian Pertamina mencapai US$ 6,2 miliar atau Rp102,8 triliun.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa pada paruh pertama 2025, perusahaan mampu menjaga stabilitas operasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Hingga Juli 2025, Pertamina mampu menjaga produksi minyak dan gas di atas 1 juta barel setara minyak per hari (BOEPD) serta mencatat penemuan cadangan migas baru sebesar 724 juta barel setara minyak (MMBOE) di wilayah kerja Rokan. Hal ini semakin memperkuat ketahanan energi jangka panjang,” ujar Simon, Jumat (12/9/2025).
Selain itu, sejumlah program strategis berhasil dijalankan. Pertamina telah memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) pertama di Asia Tenggara dengan kapasitas 9.000 barel per hari, mengoperasikan PLTP Lumut Balai dengan kapasitas 800 GWh, serta melakukan revitalisasi tangki Arun berkapasitas 127 ribu m³ yang ditargetkan rampung akhir tahun 2025.
“SAF Pertamina adalah bahan bakar pesawat berkelanjutan hasil teknologi co-processing antara kerosene dan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO). Ekosistem ini bukan hanya mendukung swasembada energi, tetapi juga mendorong ekonomi mikro dan sirkuler,” jelas Simon.
Tak hanya di dalam negeri, Pertamina juga memperluas ekspansi internasional melalui proyek Palawan di Filipina berkapasitas 285 MW, serta meluncurkan Pertamax Green 95 di 160 outlet dengan volume penjualan mencapai 4,83 ribu kiloliter (KL) hingga Juli 2025.
Dengan beragam capaian tersebut, Simon menegaskan bahwa Pertamina mampu mempertahankan kinerja keuangan dan operasional yang tangguh, sekaligus memberi kontribusi nyata terhadap target swasembada energi nasional.







