Puskep UI: Kandungan Etanol di BBM Pertamina Aman dan Lazim di Dunia

0
244

Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (Puskep UI) menegaskan bahwa penggunaan etanol dalam bahan bakar minyak (BBM) bukan hal baru dan telah lazim diterapkan di banyak negara. Bahkan, kadar etanol di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia mencapai 5 persen, 8 persen hingga 10 persen, jauh di atas 3,5 persen yang terdapat dalam BBM impor Pertamina.

Direktur Eksekutif Puskep UI, Ali Ahmudi, menyebut keberadaan etanol dalam BBM berdampak positif terhadap lingkungan karena dapat mereduksi emisi karbon dan mendukung transisi energi global.

“Itu sudah lazim dipakai dan berpengaruh sangat baik untuk lingkungan. Di Eropa mereka biasa gunakan 5–8 persen, di Amerika dan Australia juga demikian. Tujuannya bukan semata bisnis, tapi untuk mengurangi ketergantungan pada minyak fosil,” ujar Ali di Jakarta, Jumat (3/10).

Etanol dan Adaptasi Mesin Kendaraan

Ali menjelaskan, teknologi mesin kendaraan modern sebenarnya sudah adaptif terhadap campuran etanol rendah. Bahkan, kendaraan produksi tahun 2010 ke atas rata-rata sudah dirancang lebih ramah lingkungan dan bisa menggunakan BBM dengan kadar etanol lebih tinggi.

“Kalau hanya 3,5 persen seharusnya tidak ada masalah. Justru di banyak negara, kadar etanol jauh lebih tinggi. Nyatanya, mesin tetap aman,” tegasnya.

Kritik untuk SPBU Swasta

Ali mempertanyakan alasan sejumlah SPBU swasta menolak BBM impor Pertamina dengan alasan kandungan etanol 3,5 persen. Ia menilai alasan tersebut terlalu dilebih-lebihkan.

“Kalau alasan mayor dipakai, seolah-olah kendaraan konsumen akan rusak semua kalau pakai BBM dengan etanol 3,5 persen. Padahal di negara lain itu normal. Kalau alasan minor, ya hanya mencari-cari alasan saja,” ucapnya.

Menurut Ali, perusahaan energi global seperti Shell, Total, dan BP juga sudah lama memasarkan BBM dengan campuran etanol, dan terbukti aman.

Harapan Edukasi Publik

Ali menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar tidak salah paham mengenai isu etanol dalam BBM, apalagi di era media sosial yang rentan disinformasi.

“Yang dipahami masyarakat belum tentu benar. Justru etanol adalah bagian dari upaya global mengurangi emisi karbon dan mendukung energi berkelanjutan,” katanya.

Sebelumnya, perusahaan swasta Vivo dan BP-AKR sempat membatalkan pembelian BBM impor Pertamina dengan alasan kandungan etanol 3,5 persen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here