PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya dalam mendukung Astacita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mewujudkan kemandirian energi nasional melalui strategi dual growth strategy — yaitu memaksimalkan bisnis eksisting di sektor minyak dan gas bumi (migas), serta mempercepat transformasi menuju bisnis energi rendah karbon.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan strategi tersebut merupakan langkah nyata Pertamina untuk mendukung tiga pilar utama Astacita, yakni kemandirian pangan, energi, dan air.
“Sesuai Astacita Presiden Prabowo, Pertamina berkomitmen mendukung kemandirian pangan, energi, dan air. Kami menjalankan strategi dual growth. Pertama, memaksimalkan bisnis eksisting, dan kedua, mengembangkan bisnis rendah karbon,” ujar Simon dalam acara Indonesia Langgas Berenergi di Jakarta, Selasa (8/10).
Perkuat Produksi Migas dan Kilang Nasional
Pada sisi bisnis eksisting, Pertamina terus berupaya meningkatkan produksi migas melalui inovasi teknologi, terutama di sumur-sumur yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku subholding upstream Pertamina.
Selain itu, Pertamina juga memperkuat sektor hilir melalui peningkatan kapasitas dan efisiensi kilang. Salah satu proyek strategis nasional yang menjadi prioritas ialah Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, yang ditargetkan mulai beroperasi pada November 2025.
“Proyek RDMP Balikpapan akan meningkatkan kapasitas pengolahan, menghasilkan produk berkualitas tinggi setara standar Euro 5, dan mengurangi ketergantungan impor BBM,” jelas Simon.
Percepat Transisi Energi Rendah Karbon
Sejalan dengan agenda dekarbonisasi global, Pertamina juga mempercepat transformasi menuju bisnis energi rendah karbon. Salah satu langkah konkret adalah peluncuran Pertamax Green 95, bahan bakar dengan campuran 5 persen etanol nabati (E5) yang ramah lingkungan.
Pertamina juga memperluas pengembangan panas bumi (geothermal), di mana Indonesia kini menjadi negara dengan kapasitas terpasang terbesar kedua di dunia. Di sisi lain, berbagai proyek carbon capture and storage (CCS/CCUS) serta inisiatif dekarbonisasi terus dikembangkan untuk mendukung target net zero emission 2060.
Sinergi Pemerintah dan Pertamina
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyampaikan bahwa pemerintah menempatkan kemandirian energi sebagai prioritas utama Astacita Presiden Prabowo.
Pemerintah juga terus mendorong pengurangan impor bahan bakar minyak melalui optimalisasi energi domestik, termasuk penerapan biodiesel 40 (B40) — bahan bakar diesel dengan campuran 40 persen minyak sawit mentah (CPO).
“Tahun ini impor solar sudah turun menjadi sekitar 4 juta ton per tahun. Tahun depan, dengan penerapan B50, targetnya Indonesia tidak perlu impor solar lagi,” kata Bahlil.
Mewujudkan Kemandirian dan Keberlanjutan Energi
Dengan strategi dual growth, Pertamina berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi nasional dan keberlanjutan lingkungan. Langkah ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi Indonesia, tetapi juga mempercepat transformasi menuju ekonomi hijau yang berdaya saing global.








