Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa proyek kilang minyak Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur menyerap hingga 24.000 tenaga kerja sejak tahap konstruksi hingga operasional. Proyek raksasa ini tidak hanya menjadi simbol kebangkitan industri energi nasional, tetapi juga memberikan dampak ekonomi signifikan bagi Indonesia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa RDMP Balikpapan menelan investasi sebesar US$ 7,4 miliar atau setara Rp123 triliun. Selain bersifat padat modal, proyek ini juga memberikan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
“Bapak Presiden yang kami hormati, penyerapan tenaga kerja mencapai 24.000 orang dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekitar 30 persen. Peningkatan PDB dari proyek ini mencapai Rp514 triliun per tahun,” ujar Bahlil dalam acara peresmian RDMP Balikpapan, Senin (12/1/2026).
RDMP Balikpapan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari sebelumnya 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari. Selain peningkatan kapasitas, kilang ini juga dirancang untuk menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) berkualitas tinggi dengan standar Euro V yang lebih ramah lingkungan.
Bahlil menegaskan bahwa peresmian RDMP Balikpapan memiliki nilai historis tersendiri. Menurutnya, sejak 1994, baru dua presiden yang meresmikan proyek RDMP, yakni Presiden Soeharto dan Presiden Prabowo Subianto pada 2026. Momentum ini dinilai sejalan dengan visi Asta Cita pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional.
Beroperasinya kilang ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga lebih dari Rp60 triliun per tahun, didukung tambahan produksi BBM sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun. Dengan kombinasi peningkatan produksi kilang dan program mandatori biodiesel B40 dan B50, pemerintah optimistis Indonesia tidak lagi perlu mengimpor solar karena neraca produksi telah berada dalam kondisi surplus.
“Sesuai arahan Presiden, ke depan tidak ada lagi impor solar. Dengan kebutuhan sekitar 38 juta kiloliter dan tambahan produksi dari B40–B50 serta kilang, impor bisa tertutup bahkan surplus sekitar 1,4 juta kiloliter,” jelas Bahlil.
RDMP Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), anak usaha PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (Persero). Proyek ini mulai dibangun pada 2019 dan sempat mengalami perlambatan akibat pandemi COVID-19, namun tetap diselesaikan berkat konsistensi kebijakan dan komitmen pemerintah.
Selain meningkatkan kapasitas produksi menjadi 360 ribu barel minyak per hari, proyek ini juga menaikkan porsi produk bernilai tinggi dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen. Kompleksitas kilang meningkat signifikan, tercermin dari lonjakan Nelson Complexity Index dari 3,7 menjadi 8, yang menandakan kemampuan kilang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dengan efisiensi lebih baik.
Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, produksi dalam negeri diperkuat melalui tambahan gasoline, diesel, avtur, LPG, serta produk petrokimia seperti propilena. Total produksi tersebut diperkirakan mampu menekan nilai impor BBM hingga sekitar Rp68 triliun per tahun, sekaligus memperkuat neraca perdagangan nasional.
Salah satu unit kunci dalam proyek ini adalah Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Fasilitas ini memungkinkan konversi residu minyak menjadi BBM dan produk petrokimia bernilai tinggi, sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya saing industri kilang nasional. Kehadiran RFCC menjadi simbol keberhasilan strategi hilirisasi migas yang selama ini didorong pemerintah.
Selain manfaat ekonomi, proyek RDMP Balikpapan juga meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, memperluas lapangan kerja, serta memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menilai keberhasilan proyek ini sebagai pijakan penting menuju swasembada energi dan penguatan kedaulatan energi Indonesia dalam jangka panjang.








