Pertamina Luncurkan Green Terminal, Langkah Strategis Perkuat Ketahanan Energi Rendah Karbon

0
2

PT Pertamina (Persero) memulai transformasi infrastruktur energi nasional melalui inisiasi Green Terminal di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, Banten. Terminal yang memasok sekitar 35% hingga 40% kebutuhan LPG nasional ini kini menjadi proyek percontohan pengelolaan terminal berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) sekaligus operasional rendah karbon.

Transformasi ini menandai fase penting dalam penguatan sektor hilir energi nasional. Green Terminal tidak sekadar menjadi sertifikasi fasilitas, tetapi merupakan pendekatan menyeluruh dalam tata kelola operasional yang mengintegrasikan delapan pilar keberlanjutan. Pilar tersebut mencakup sistem manajemen lingkungan, digitalisasi operasional, penggunaan peralatan ramah lingkungan, penerapan ekonomi sirkular dalam pengelolaan limbah, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui praktik terbaik lingkungan.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, mengatakan inisiatif ini merupakan bagian dari strategi besar perusahaan dalam memperkuat ketahanan energi nasional yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa Green Terminal menjadi implementasi nyata Roadmap Net Zero Emission (NZE) 2060 sekaligus upaya meningkatkan daya saing perusahaan di tengah tuntutan global terhadap praktik bisnis berkelanjutan.

“Transformasi ini memastikan bahwa infrastruktur energi nasional tidak hanya andal secara operasional, tetapi juga relevan dengan standar keberlanjutan global. Dengan mengintegrasikan teknologi hijau dan tata kelola yang lebih baik, Pertamina memperkuat fondasi ketahanan energi sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan risiko jangka panjang,” ujar Agung.

Terminal LPG Tanjung Sekong memiliki kapasitas penyimpanan mencapai 98.000 metrik ton dan dermaga yang mampu melayani kapal hingga 65.000 deadweight tonnage (DWT). Perannya sangat vital dalam menjaga stabilitas pasokan LPG nasional, khususnya untuk kebutuhan rumah tangga. Transformasi terminal ini menunjukkan komitmen Pertamina dalam memulai agenda keberlanjutan dari infrastruktur energi inti.

Salah satu inovasi utama dalam proyek ini adalah pengembangan ekosistem Green Hydrogen. Melalui sinergi antar entitas Pertamina, PT Pertamina Geothermal Energy memproduksi hidrogen hijau berbasis panas bumi dari Ulubelu. Hidrogen tersebut kemudian didistribusikan oleh PT Elnusa Petrofin dan dimanfaatkan oleh PT Pertamina Energy Terminal sebagai sumber listrik rendah karbon di Terminal Tanjung Sekong.

Pemanfaatan Green Hydrogen ini ditargetkan mampu memenuhi hingga 25% kebutuhan listrik operasional terminal. Selain meningkatkan efisiensi energi, langkah ini juga diharapkan mampu menurunkan emisi karbon secara signifikan, khususnya emisi Scope 2 yang berasal dari penggunaan listrik.

Selain manfaat lingkungan, inisiatif Green Terminal juga memberikan nilai strategis dari sisi ekonomi dan investasi. Dekarbonisasi operasional dinilai mampu meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi konvensional yang rentan terhadap fluktuasi biaya.

Agung menambahkan bahwa pendekatan ESG dalam Green Terminal mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola secara terintegrasi. Aspek lingkungan diwujudkan melalui pengurangan emisi dan pemanfaatan energi terbarukan. Aspek sosial diperkuat melalui peningkatan keselamatan kerja, pemberdayaan masyarakat sekitar, serta jaminan pasokan energi bagi masyarakat. Sementara aspek tata kelola diwujudkan melalui peningkatan transparansi, efisiensi operasional, dan penguatan sistem pengawasan.

Ke depan, model Green Terminal Tanjung Sekong akan menjadi acuan pengembangan terminal energi lainnya di seluruh jaringan Pertamina. Transformasi ini menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung transisi energi nasional sekaligus memperkuat kedaulatan energi Indonesia.

Melalui inisiatif ini, Pertamina menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar agenda tambahan, melainkan bagian inti dari strategi perusahaan untuk memastikan ketahanan energi nasional, mengurangi emisi karbon, serta menciptakan nilai jangka panjang bagi negara dan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here