PT Pertamina (Persero) bersama Gabungan Pengusaha Limbah Minyak Goreng Indonesia (Gapulimgi) memperkuat kolaborasi strategis untuk membangun ekosistem nasional pengelolaan minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) yang berkelanjutan. Inisiatif ini bertujuan mendukung pengembangan energi hijau, khususnya bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF), dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam rantai pasok.
Ketua Gapulimgi Tommy Lim mengatakan kerja sama dengan Pertamina menjadi langkah penting untuk mempercepat pembentukan sistem pengelolaan minyak jelantah yang terstruktur dan memiliki standar nasional. Menurutnya, kolaborasi ini tidak hanya memperkuat rantai pasok bahan baku energi hijau, tetapi juga memberikan kepastian pasar bagi pelaku usaha, termasuk UMKM dan masyarakat.
“Kolaborasi dengan Pertamina tidak hanya memperkuat rantai pasok, tetapi juga memberikan kepastian pasar bagi pelaku pengumpulan, UMKM, serta masyarakat,” ujar Tommy dalam keterangan resmi, Minggu (15/2/2026).
Tommy menjelaskan, keterlibatan masyarakat menjadi faktor kunci dalam membangun rantai pasok minyak jelantah nasional. Hal ini karena lebih dari 60 persen konsumsi minyak goreng nasional berasal dari sektor rumah tangga dan UMKM, sehingga potensi minyak jelantah terbesar berada di tingkat masyarakat.
Ia menambahkan, partisipasi aktif masyarakat juga penting untuk memastikan pasokan stabil sekaligus mencegah praktik ilegal, seperti penggunaan kembali minyak jelantah sebagai minyak konsumsi. Untuk itu, Gapulimgi menjalankan berbagai program edukasi, pelatihan, dan kampanye publik, serta bekerja sama dengan sekolah, komunitas, pemerintah daerah, dan pelaku usaha.
Dalam skema pengumpulan yang dikembangkan, masyarakat dapat menyimpan minyak jelantah di rumah dan menyalurkannya melalui bank sampah, drop point, atau pengepul resmi. Sementara itu, pelaku UMKM dan usaha kuliner difasilitasi melalui kerja sama dengan pengumpul terdaftar yang menyediakan layanan pengambilan berkala dengan standar mutu yang jelas dan skema insentif.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menegaskan, kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen Pertamina dalam mendorong transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem energi hijau nasional.
“Melalui kolaborasi dengan Gapulimgi, kami mendorong keterlibatan aktif masyarakat dan UMKM dalam rantai pasok energi hijau sehingga transisi energi dapat berjalan seiring dengan penciptaan nilai sosial,” kata Baron.
Ia menambahkan, kerja sama ini mencakup penguatan rantai pasok minyak jelantah, peningkatan kapasitas pelaku usaha, penyusunan kerangka komersial, serta advokasi kebijakan bersama pemerintah untuk mendukung pertumbuhan industri biofuel nasional.
Pengembangan ekosistem minyak jelantah juga sejalan dengan visi pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui Subholding Downstream, Pertamina terus memperluas kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan rantai pasok energi hijau berjalan secara transparan dan berkelanjutan.
Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dan mempercepat pengembangan energi rendah karbon. Pengelolaan minyak jelantah menjadi bahan baku energi hijau diharapkan tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat secara luas.







