PT Pertamina Patra Niaga terus memperkuat komitmennya dalam pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui program Si Cadiak (Sistem Inovasi Cerdas Kelola Limbah) di Nagari Padang Toboh, Sumatera Barat. Program berbasis ekonomi sirkular ini mengubah limbah pertanian dan peternakan menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus sumber energi terbarukan bagi masyarakat.
Program yang dijalankan oleh Aviation Fuel Terminal (AFT) Minangkabau tersebut merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina. Inisiatif ini dirancang untuk mengatasi persoalan limbah jerami dan kotoran ternak yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dan bahkan kerap dibakar, sehingga menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, mengatakan program Si Cadiak menjadi bukti nyata kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat dalam menciptakan solusi berkelanjutan yang berdampak langsung.
“Si Cadiak menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara Pertamina Patra Niaga dan masyarakat mampu menghadirkan solusi berkelanjutan. Program ini tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi, memperkuat ketahanan energi berbasis biogas, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara inklusif,” ujar Roberth dalam keterangan tertulis, Selasa (17/2/2026).
Melalui program ini, sekitar 894 ton jerami dan 864 ton kotoran ternak per tahun diolah menjadi berbagai produk ramah lingkungan, seperti kompos, bioetanol, dan produk inovatif lainnya, termasuk parfum jerami ramah lingkungan bernama Aruwa. Limbah tersebut juga dimanfaatkan untuk mendukung pertanian berkelanjutan serta menghasilkan energi terbarukan.
Selain itu, program ini terintegrasi dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang digunakan untuk mendukung operasional Learning Center UKASEMA, pusat edukasi masyarakat dalam pengelolaan limbah dan pengembangan ekonomi lokal. Fasilitas ini menjadi sarana pelatihan bagi masyarakat untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan dalam memanfaatkan limbah secara produktif.
Dari sisi lingkungan, program Si Cadiak berkontribusi signifikan dalam menurunkan emisi karbon hingga 1.305 ton CO2e per tahun. Selain itu, pengurangan praktik pembakaran jerami juga berdampak pada penurunan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga 80 persen dalam periode 2022–2025.
Dari sisi ekonomi, inisiatif ini turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pertamina mencatat pendapatan masyarakat meningkat hingga 63 persen melalui diversifikasi produk berbasis limbah serta efisiensi biaya pertanian.
Pendekatan ekonomi sirkular yang diterapkan dalam program Si Cadiak memungkinkan limbah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi sumber daya produktif yang memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan. Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi lokal, konsumsi berkelanjutan, serta pengurangan emisi karbon.
Pertamina Patra Niaga menilai program Si Cadiak dapat menjadi model pengelolaan limbah berbasis masyarakat yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. Melalui pendekatan ini, pengelolaan limbah tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi dan ketahanan energi masyarakat di tingkat lokal.








