Masyarakat diminta tidak khawatir dengan informasi mengenai cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional yang disebut berada pada kisaran 20 hari. Angka tersebut tidak berarti pasokan BBM akan habis setelah periode tersebut.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menjelaskan bahwa angka 20 hari menggambarkan kondisi stok apabila tidak ada penambahan pasokan sama sekali dalam periode tersebut.
“Angka itu menggambarkan kondisi apabila tidak ada tindakan apa pun. Padahal secara rutin Pertamina melakukan berbagai langkah penstabilan pasokan agar cadangan tetap terjaga,” ujar Tauhid di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, dalam praktiknya pemerintah bersama PT Pertamina terus melakukan pengadaan dan distribusi energi secara berkala sehingga pasokan tetap stabil.
Masih Sesuai Standar Cadangan Operasional
Tauhid menambahkan bahwa level cadangan BBM nasional saat ini masih berada dalam batas yang diatur pemerintah. Berdasarkan laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Desember 2025, sebagian besar jenis BBM memiliki cadangan di atas standar minimum operasional.
Untuk beberapa jenis BBM, cadangan bahkan tercatat berada pada kisaran 19 hingga 31 hari.
Sebagai acuan, Peraturan BPH Migas Nomor 9 Tahun 2020 tentang Penyediaan Cadangan Operasional BBM mewajibkan pemegang izin usaha menyediakan cadangan operasional minimal selama 23 hari.
Tauhid menjelaskan bahwa kemampuan mencadangkan BBM tidak hanya bergantung pada volume bahan bakar, tetapi juga berbagai faktor lain seperti kapasitas penyimpanan, infrastruktur distribusi, hingga kemampuan pendanaan negara.
“Cadangan itu bukan hanya soal bahan bakar, tetapi juga soal infrastruktur penyimpanan, distribusi, dan kemampuan pendanaan,” katanya.
Diversifikasi Impor Energi
Tauhid juga menilai positif langkah pemerintah dan Pertamina yang melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
Menurutnya, pengalihan sebagian impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke negara lain seperti Brasil atau Amerika Serikat merupakan strategi yang tepat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
“Saat ini kawasan tersebut relatif lebih aman dari konflik sehingga bisa menjadi alternatif pasokan,” ujarnya.
Saat ini, impor minyak mentah Indonesia dari Arab Saudi mencapai sekitar 20 persen dari total impor. Selain itu, Indonesia juga mengimpor dari negara lain seperti Nigeria dan Angola.
Risiko Harga Minyak Dunia
Tauhid mengingatkan bahwa eskalasi konflik global dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia. Jika harga minyak mentah mendekati 100 dolar AS per barel, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi meningkat.
“Kalau harga minyak mencapai 100 dolar AS per barel, dampaknya bisa besar terhadap APBN,” katanya.
Ia juga menyarankan agar pemerintah secara bertahap meningkatkan cadangan energi nasional hingga mencapai satu hingga dua bulan untuk mengantisipasi potensi gangguan distribusi global.
Apalagi konflik geopolitik dapat memengaruhi jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
“Semakin besar cadangan tentu semakin baik untuk menjaga ketahanan energi nasional,” ujar Tauhid.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa cadangan BBM nasional saat ini berada di kisaran 20 hari. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat mengenai perkembangan geopolitik di Istana Negara pada Senin (2/3/2026).








