Setelah Pandemi, Energi Terbarukan Diprediksi akan Semakin Eksis

0
227
Solar panel on colorful sky background and sunlight, Alternative energy concept,in Japan

Terdapat tren yang akan muncul setelah wabah covid atau saat era kenormalan baru. Banyak perusahaan akan beralih menggunakan energi terbarukan sebagai kepedulian terhadap lingkungan.

Menurut Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Saleh Abdurrahman, hal ini sudah direncanakan perusahaan dunia seperti Nike dan Uniliver untuk menggunakan energi terbarukan.

“Dengan adanya demand dari perusahaan besar, nantinya perusahaan besar tersebut akan membeli energi terbarukan dengan harga premium, ini juga akan membuat peluang bagi anak muda untuk terus membuat inovasi di energi terbarukan,” kata Saleh saat webinar Wirausaha Muda Sebagai Agen Perubahan Industri Energi Indonesia, Kamis (6/8).

Peran dari energi terbarukan sendiri memiliki penurunan harga/biaya produksi.

Energi terbarukan semakin kuat setelah pengembangan energi fosil semakin sulit mendapatkan pendanaan.

“Tren lainnya dari wabah covid dan kenormalan baru ini adalah pengembang energi fosil semakin sulit dari lembaga-lembaga bank internasional seperti Bank Dunia (World Bank),” ujar Saleh.

Transformasi energi terbarukan dari cost center menjadi profit center yakni sampah pengolahan energi dapat dimanfaatkan untuk pengembang. Selain itu, transformasi energi terbarukan juga dari big scale menjadi small scale/distributed energy system.

“Jadi distributed energy system ialah kedepannya kita tidak lagi akan bergantung pada pembangkit dengan skala yang besar. Apabila terjadi gangguan maka akan mempengaruhi aktivitas orang banyak,” jelasnya.

Diketahui, tren perkembangan permintaan energi dunia, dalam kuartal I 2020 wabah covid menekan permintaan energi dunia hingga 3,8% dibanding pada kuartal I 2019

“Akibat wabah covid juga akan menurunkan investasi. Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memproyeksikan investasi energi pada 2020 akan turun 20% dibanding tahun lalu. Namun, kondisi tersebut mungkin akan direbound pada 2021,” pungkasnya. (OL-2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here