Indonesia Jadi Produsen Energi Panas Bumi Terbesar di Asia Tenggara

0
192

Potensi energi baru terbarukan di Indonesia cukup besar. Salah satu sumber energi terbarukan yang banyak tersedia di Indonesia adalah panas bumi alias geothermal. Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Indonesia saat ini sudah mencapai 2,1 Gigawatt.

Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM Ida Nuryatin mengungkapkan, jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai produsen panas bumi nomor 1 di kawasan Asia Tenggara. Tak hanya itu, Indonesia juga merupakan penghasil energi panas bumi nomor 2 di dunia, hanya kalah dari Amerika Serikat (AS).

“Nah ini gambaran dari perkembangan energi listrik terbarukan di ASEAN status saat ini. Kita ketahui di sini bahwa pembangkit listrik tenaga panas bumi kapasitas di Indonesia ini sekarang ini 2,1 Gigawatt. Kita ini peringkat 1 di ASEAN dan nomor 2 di dunia setelah Amerika,” kata Ida saat webinar yang diselenggarakan dan ditayangkan di Youtube Katadata, Jumat (28/8).

Ilustrasi geothermal (panas bumi) Foto: Pixabay

Sementara itu untuk pembangkit listrik biomassa di Indonesia kapasitas terpasangnya telah mencapai 1,8 Gigawatt atau tertinggi nomor 2 di ASEAN setelah Thailand. Pembangkit hidro juga tidak kalah bersaing.

“Kemudian kalau pembangkit listik tenaga hidro Indonesia menjadi share PLTA sekitar 20 persen di ASEAN setara dengan Malaysia dan Laos, tetapi masih di bawah Vietnam sekitar 27 persen,” ujar Ida.

Meski begitu, Ida mengakui kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia masih tertinggal jauh di ASEAN. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) juga masih rendah. Namun sudah mulai meningkat.

“Pembangkit Listrik Tenaga Bayu mulai signifikan dengan adanya pembangunan di Tolo dan Sidrap yang diresmikan Pak Presiden. Namun, total kapasitasnya juga masih tertinggal dibandingkan Thailand, Filipina, Vietnam,” ungkap Ida.

Lebih lanjut, Ida memastikan Kementerian ESDM bakal terus meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan di Indonesia. Langkah itu juga sebagai komitmen mengurangi gas efek rumah kaca hingga 314 juta ton CO2 ekuivalen di tahun 2030. Ida mengungkapkan pihaknya sudah mempunyai rencana aksi di sektor energi untuk mewujudkannya.

“Nah dari rencana aksi sektor energi ini bahwa renewable energi akan berkontribusi lebih dari 50 persennya, bahwa rencana aksi sektor energi khususnya implementasi renewable energi ini bisa memitigasi 156,6 juta ton CO2,” tutur Ida.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here