Letak Geografis Jadi Tantangan Indonesia Kembangkan Energi Bersih

0
313

Director of Energy Markets and Security, International Energy Agency (IEA), Keisuke Sadamori mengakui Indonesia memiliki banyak tantangan dalam melakukan transisi penggunaan energi bersih. Tantangan terbesarnya, kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

“Kami menyadari tantangan yang dihadapi Indonesia di bidang energi ini karena keunikan geografisnya,” kata Sadamori dalam Webinar Smart Grid: Implementation of Smart Grid, Jakarta, Jumat (26/2).

Sadamori mengatakan, Indonesia membutuhkan banyak solusi dalam peralihan penggunaan energi bersih. “Tidak ada solusi tunggal untuk menyediakan akses terhadap listrik yang bersih, aman dan terjangkau untuk Indonesia,” kata dia.

Menurut dia, perlu ada kerja sama berbagai pihak baik dari pemerintah dan pengusaha untuk menghadirkan solusi demi meningkatkan efisiensi sistem dalam skala besar. Di sisi lain, harus juga bisa meningkatkan sistem listrik skala kecil untuk di daerah terpencil.

Untuk itu, pengembangan teknologi jaringan cerdas (smart grid) bisa digunakan untuk menerapkan penggunaan energi bersih di Indonesia. “Jaringan cerdas berperan penting dalam mencapai dua tujuan tersebut,” sambungnya.

Teknologi Jaringan Cerdas

Sebagai informasi, Indonesia akan menggunakan inovasi teknologi jaringan cerdas (Smart Grid) dalam melakukan pengendalian dan pengoperasian sistem tenaga listrik dalam menyalurkan tenaga listrik. Pengembangan Smart Grid ini telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2020-2024 dan ditargetkan dibangun setiap tahun di Jawa-Bali.

Inovasi Teknologi Smart Grid merupakan teknologi yang memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi, komputer, dan cyber untuk dapat melakukan pengendalian dan pengoperasian sistem tenaga listrik dalam menyalurkan tenaga listrik. Integrasi teknologi cerdas dalam jaringan listrik ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang saat ini maupun masa mendatang menjadi kebutuhan primer.

Implementasi Smart Grid dalam semua aspeknya akan memberikan keuntungan yang lebih besar. Sebab jumlah pembangkit terbarukan dan unit penyimpan yang terdistribusi dan terintegrasi meningkat dan menurunkan emisi CO2. Keandalannya juga meningkat melalui optimalisasi jaringan karena memiliki kemampuan mengoreksi diri atau penyembuhan diri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here