Produksi Minyak RI Semakin Turun, Peran SKK Migas Dipertanyakan

0
347

Seputarenergi – Krisis produksi minyak nasional yang belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan yang signifikan telah menjadi perhatian bersama. Meskipun pemerintah memiliki target produksi sebesar 1 juta barel minyak per hari dan 12 bscfd gas di tahun 2030, pencapaian target ini masih menjadi tantangan yang besar.

Ketua Komite Investasi Aspermigas, Moshe Rizal, menilai perlunya perhatian terhadap penurunan produksi migas nasional. Ia mendorong Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), yang berperan sebagai regulator di sektor hulu, untuk memudahkan proses-proses yang diperlukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam menjalankan aktivitasnya di Indonesia. Moshe menjelaskan, “Perlu untuk SKK Migas mengambil kembali perannya sebagai pemegang hak kuasa tambang, yaitu bertanggung jawab dalam pengurusan perizinan dan pembebasan lahan, KKKS sesuai namanya hanyalah kontraktor pemerintah yang bertanggung jawab segala hal-hal teknis dan juga pendanaannya.”

Sementara itu, Founder & Advisor ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, melihat peran SKK Migas lebih berfokus pada pengawasan, terutama dalam mengawasi aspek manajemen dan operasional dari wilayah kerja atau lapangan minyak yang ada, serta memastikan kelancaran kegiatan operasional hulu migas. Ia menjelaskan, “Jadi ya kembali lagi tergantung kepada lapangan tipe apa yang dikelola. Kalau lapangan mature ya pasti hanya akan bisa sebatas menahan laju penurunan produksi.”

Penurunan produksi minyak nasional yang terus berlangsung dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah ketergantungan produksi migas RI pada lapangan-lapangan berumur tua. Oleh karena itu, kenaikan harga minyak mentah di pasar global mungkin tidak akan memiliki dampak yang signifikan pada peningkatan produksi. Namun, kenaikan harga minyak tetap memiliki peran penting dalam aspek ekonomi.

Pri Agung menjelaskan, “Yang akan membuat produksi naik adalah kalau sudah ada investasi dan produksi dari lapangan-lapangan baru yang skalanya besar seperti sekelas Blok Cepu atau Rokan misalnya. Harus berhasil dulu eksplorasinya atau upaya EOR nya di lapangan besar sekelas itu, baru akan bisa naik produksi.”

Mengutip data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), produksi minyak per 4 November hanya mencapai 571.280 barel per hari, sedangkan pemerintah menargetkan produksi lifting minyak dalam APBN 2023 mencapai 660 ribu barel per hari. Upaya untuk mencapai target ini masih memerlukan kerja keras dari berbagai pihak, termasuk SKK Migas, dalam memfasilitasi peningkatan produksi migas nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here