Presiden Prabowo Subianto memastikan pemerintah akan mempertahankan subsidi bahan bakar minyak (BBM) demi menjaga keterjangkauan energi bagi masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.
Pernyataan ini disampaikan di tengah lonjakan harga minyak dunia yang sempat menembus US$100 per barel akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“BBM yang bersubsidi akan kita pertahankan untuk rakyat kecil dan rakyat miskin. Kita akan pertahankan untuk 80 persen rakyat kita,” ujar Prabowo dalam taklimat Kabinet Merah Putih, Rabu (8/4/2026).
Subsidi Difokuskan untuk Rakyat Kecil
6
Presiden menegaskan, kebijakan subsidi akan lebih tepat sasaran. Masyarakat mampu diminta membeli BBM dengan harga pasar, sementara subsidi difokuskan bagi kelompok yang membutuhkan.
“Yang kita bela rakyat miskin. Kalau yang mampu, ya bayar sesuai harga pasar,” tegasnya.
Kebijakan ini dinilai sebagai upaya menjaga keseimbangan antara keadilan sosial dan ketahanan fiskal negara di tengah tekanan global.
Harga BBM Tetap Stabil
Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) juga memastikan tidak ada kenaikan harga BBM per 1 April 2026, baik subsidi maupun nonsubsidi.
Beberapa harga BBM yang tetap berlaku antara lain:
- Pertalite: Rp10.000/liter
- Solar subsidi: Rp6.800/liter
- Pertamax: Rp12.300/liter
- Pertamax Turbo: Rp13.100/liter
- Dexlite: Rp14.200/liter
Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menahan laju inflasi di tengah kenaikan harga energi global.
Stok Energi Aman hingga Setahun
Selain menjaga harga, Prabowo juga memastikan bahwa pasokan energi nasional dalam kondisi aman, bahkan untuk menghadapi satu tahun ke depan.
“Intinya sekarang kita siap, kita kuat menghadapi satu tahun ini,” ujarnya.
Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah strategis, termasuk:
- Pengendalian konsumsi BBM
- Diversifikasi sumber impor energi
- Optimalisasi produksi dalam negeri
Kurangi Ketergantungan Jalur Global
Salah satu fokus utama pemerintah adalah mengurangi ketergantungan pada jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz yang saat ini terdampak konflik.
Sebagai gantinya, Indonesia mengandalkan:
- Sumber pasokan alternatif
- Jalur distribusi strategis domestik
Dengan posisi geografis strategis, Indonesia bahkan menjadi salah satu jalur utama perdagangan dan energi di Asia, termasuk melalui Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Makassar.
Optimisme Hadapi Krisis Global
Pemerintah optimistis Indonesia mampu melewati tekanan global, baik dari sisi pasokan maupun harga energi.
Kombinasi kebijakan subsidi yang tepat sasaran, stabilitas harga, serta diversifikasi pasokan dinilai menjadi fondasi kuat dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah gejolak geopolitik dunia.








