Desentralisasi Pembangkit EBT Bakal Percepat Transisi Energi

0
70

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan pemerintah menyiapkan beberapa strategi untuk meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) khususnya dalam konsep desentralisasi. Kebijakan tersebut mulai dari regulasi panel surya hingga mendukung sektor perikanan.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, dalam pembukaan Indonesia-German Renewable Energy Day 2021, di Jakarta, Selasa (30/11), mengatakan desentralisasi pembangkit EBT penting untuk diwujudkan agar Indonesia bisa menjadi produsen independen sekaligus ikut berkontribusi terhadap capaian target EBT dalam bauran energi nasional.

“Beberapa strategi yang kita bangun untuk meningkatkan EBT dalam konsep desentralisasi, pertama, implementasi rooftop solar program (PLTS Atap),” katanya.

Melalui mekanisme tarif ekspor impor listrik nett metering, ditargetkan penggunaan solar PLTS Atap akan mencapai 3,6 GW pada 2025.

“Ini juga akan berkontribusi agar bisa mencapai target 26 persen EBT pada 2025. Sementara saat ini kita punya hampir 43 MW per Oktober 2021 dari PLTS Atap,” katanya.

Strategi lainnya, jelas Dadan, adalah mengintegrasikan permintaan dan pasokan EBT melalui pengembangan industri hijau. Strategi tersebut akan mampu menyeimbangkan sumber EBT yang tersedia dengan permintaan yang ada.

Dia mencontohkan untuk hydro (air) terdapat pasokan yang besar di Papua dan Kalimantan Utara. Dengan pertimbangan sulit membawa energi tersebut ke pulau lain maka pemerintah memutuskan membawa industrinya ke sana.

Strategi selanjutnya yaitu dengan mendorong penggunaan energi hijau untuk mendukung sektor perikanan. Strategi tersebut telah diimplementasikan di sejumlah pulau kecil di Indonesia bagian timur atas kerja sama Kemenko Kemaritiman dan Investasi (Marves).

“Kami mengimplementasi panel surya untuk fasilitas cold storage di pulau kecil di Indonesia bagian timur untuk mendukung sektor perikanan di area terpencil sehingga ekonominya bisa tumbuh,” katanya.

Dalam meningkatkan penggunaan EBT, dia mengatakan membutuhkan banyak inovasi pada setiap aktivitas permintaan. Dia pun mendorong startup untuk berkontribusi menyediakan solusi di sektor energi agar bisa mencapai Nationally Determined Contribution (NDC) dan target EBT pada 2025.

Sementara itu, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM, Chrisnawan Anditya, mengaku optimistis mampu mencapai target jangka pendek bauran EBT 23 persen pada 2025. Target tersebut akan dicapai dengan dukungan segenap pemangku kepentingan hingga pemasangan PLTS Atap oleh masyarakat.

Sementara untuk jangka menengah, pemerintah menargetkan pencapaian target NDC di mana Indonesia menargetkan penurunan emisi pada 2030 mencapai 29 persen dengan kemampuan sendiri dan 41 persen dengan dukungan internasional. Untuk target jangka panjangnya adalah net zero emission pada 2060 atau lebih cepat.

“Realisasi penurunan emisi gas rumah kaca pada 2020 mencapai 64,4 juta ton CO2, lebih tinggi dibandingkan target awal 58 juta ton CO2. Indonesia menargetkan penurunan emisi 29 persen di mana 314 juta ton CO2 dari sektor energi,” kata Chrisnawan.

Gotong Royong

Pengamat Energi dari Iinstitute for Essential Service Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai desentralisasi sebagai langkah tepat yang akan mendukung transisi energi bersih dan meningkatkan ketahanan energi.

“Desentralisasi energi membuat penyediaan energi dapat dilakukan secara gotong royong dan tidak hanya bergantung pada PLN,” kata Fabby.

PLTS Atap, jelasnya, merupakan salah satu teknologi yang cocok dikembangkan untuk mencapai desentralisasi energi karena sifatnya yang modular, mudah diakses, dan harganya semakin terjangkau.

“Dengan meningkatnya permintaan maka industri PLTS terus tumbuh, sehingga bisa menyerap banyak tenaga kerja dan secara tidak langsung berkontribusi pada ekonomi nasional, selain memperkuat ketahanan energi,” pungkas Fabby.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here