PT Pertamina (Persero) akan membangun kilang baru berbasis biorefinery di Cilacap, Jawa Tengah, untuk memproduksi bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan dengan campuran used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah. Proyek strategis ini memiliki nilai investasi sebesar 1,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp19 triliun dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2029.
Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha Pertamina Emma Sri Martini mengatakan pembangunan kilang tersebut merupakan bagian dari program strategis nasional untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pemerataan ekonomi.
“Ini merupakan program strategis Presiden dan juga bagian dari program Asta Cita terkait swasembada energi, pemerataan ekonomi, dan pemberantasan kemiskinan,” ujar Emma saat groundbreaking proyek Hilirisasi Fase-1 Biorefinery Pertamina di Kilang Cilacap, Jumat (6/2/2026).
Kilang biorefinery ini dirancang untuk mengolah minyak jelantah, yang selama ini dianggap limbah rumah tangga, menjadi bahan bakar bernilai tinggi seperti biofuel dan bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Pemerintah juga telah menerapkan kebijakan pembatasan ekspor minyak jelantah untuk memastikan ketersediaan bahan baku bagi industri dalam negeri.
“Dari barang yang sebelumnya tidak bernilai, kini bisa menjadi komoditas strategis yang mendukung ketahanan energi nasional,” kata Emma.
Selain memperkuat kemandirian energi, proyek ini diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Pertamina memperkirakan pembangunan dan operasional kilang akan menciptakan sekitar 5.900 lapangan kerja, mengurangi emisi karbon hingga 600.000 ton CO₂ per tahun, serta meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp199 triliun per tahun.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menjelaskan bahwa pengembangan bioavtur dari minyak jelantah sebenarnya telah dimulai sejak 2023. Bahkan, Kilang Cilacap telah memproduksi bioavtur yang digunakan oleh beberapa maskapai penerbangan.
“Sejak 2023 kami telah mengembangkan Sustainable Aviation Fuel, dan sejak tahun lalu sudah digunakan oleh beberapa maskapai yang berkomitmen menggunakan bahan bakar ramah lingkungan,” ujar Ega.
Sementara itu, Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto menambahkan bahwa proyek ini juga menjadi bukti kemajuan teknologi energi nasional. Sebagian besar teknologi yang digunakan merupakan hasil pengembangan dalam negeri.
“Katalisnya merupakan karya putra bangsa dan diproduksi oleh Pertamina Group. Sebagian besar teknologi berasal dari dalam negeri, meskipun lisensinya dari luar,” jelas Joko.
Pengembangan kilang biorefinery ini juga mendukung peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta memperkuat industri energi nasional berbasis inovasi teknologi.
Dengan pembangunan kilang baru ini, Pertamina tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendorong transisi menuju energi bersih, mengurangi ketergantungan impor, serta menciptakan nilai tambah ekonomi dari sumber daya domestik yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.








