Pengamat Nilai RDMP Kilang Minyak Pertamina Bisa Jadi Benteng Stabilitas Rupiah

0
147
RDMP Balikpapan

Sejumlah akademisi dan pakar ekonomi energi di Bandung menilai proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) atau pengembangan kilang minyak nasional sebagai strategi krusial untuk menghentikan penguapan devisa sekaligus memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dalam diskusi bertema swasembada energi di Bandung, Selasa, para pakar sepakat bahwa peningkatan kapasitas kilang dalam negeri akan menciptakan efisiensi struktural yang berdampak langsung terhadap stabilitas harga energi dan kondisi keuangan masyarakat.

Pengamat ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menjelaskan bahwa selama ini Indonesia sangat sensitif terhadap dinamika pasar global akibat keterbatasan cadangan penyangga dan kapasitas kilang. Kondisi tersebut membuat harga BBM domestik rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dan harga internasional.

“Kalau dari sisi substitusi impor, tentu ini akan memperbesar ruang fiskal dan mengurangi ketergantungan kita pada impor. Itu jelas hal yang positif,” ujar Yayan.

Menurutnya, proyek RDMP yang tengah dikembangkan Pertamina di Balikpapan menjadi langkah awal untuk memperkecil tekanan fiskal akibat impor energi. Namun, ia mengingatkan agar pengembangan kilang tidak berhenti pada satu lokasi saja.

“RDMP ini langkah awal yang baik menuju swasembada energi, tapi harus dipikirkan jangka panjangnya. Jangan berhenti di satu kilang saja, tetapi harus mencakup seluruh Indonesia,” tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan ekonom Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kartabi. Ia menilai proyek RDMP berpotensi menjadi warisan ekonomi strategis pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, impor BBM merupakan salah satu komponen utama yang selama ini menguras cadangan devisa nasional.

“Kalau impor bisa dikurangi, permintaan valuta asing—terutama dolar—akan turun dan berdampak besar pada stabilitas nilai tukar rupiah,” jelas Acuviarta.

Dari sisi keamanan nasional, pengamat kebijakan publik Unpad Bonti Wiradinata menilai penguatan infrastruktur energi sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025. Ia mengingatkan bahwa di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, ketahanan energi menjadi fondasi utama ketahanan negara.

“Energi adalah salah satu pintu masuk kelemahan negara. Kalau energi terganggu, daya tahan negara juga ikut melemah,” ujarnya.

Saat ini, proyek RDMP Balikpapan telah meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260.000 barel menjadi 360.000 barel per hari. Tambahan kapasitas sebesar 100.000 barel per hari tersebut menjadi kunci pencapaian target pemerintah dalam mengurangi impor BBM.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa keberadaan kilang modern ini menjadi tulang punggung upaya pemerintah menghentikan ketergantungan impor solar dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan beroperasinya kilang-kilang modern secara optimal, Indonesia diproyeksikan tidak hanya mampu mencapai swasembada energi, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh terhadap guncangan eksternal, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan daya beli masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here